Wednesday, April 11, 2012

You are what you think, be positive


“Aku ingin kayak kamu”
“Kamu jadi role model buat aku”

Dua pernyataan di atas tersebut merupakan beberapa pernyataan yang disampaikan oleh beberapa teman kepada saya. Terdengar sangat aneh di telinga saya ketika mendengarnya langsung dari orang-orang yang ada di sekitar saya. Kenapa? Karena pada umumnya, seorang individu memiliki seorang atau beberapa role model yang menjadi inspirator atau motivator untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Namun, mendengar langsung pernyataan bahwa ada orang lain yang menjadikan diri saya sebagai role model bagi diri mereka adalah suatu hal yang tidak pernah saya kira sebelumnya. Hal tersebut membuat saya melihat ke masa lalu, saya pernah mendapat suatu nasihat yang berbunyi “Kamu jangan minder terhadap dirimu sendiri, kamu tahu, banyak orang di luar sana yang sangat ingin menjadi dirimu.” Sebuah nasihat yang akhirnya saya tahu bahwa itu adalah salah satu petunjuk-Nya bagi saya dalam menjalani hidup. Kita tidak pernah tahu bagaimana cara Tuhan memberikan petunjuk kepada kita. Namun, saya meyakini bahwa invisible hands-Nya pasti menolong kita entah bagaimana caranya, bahkan mungkin dengan cara di luar nalar kita. I’m pretty sure that knowledge about spirituality can explain more about it :)

Furthermore, saya memiliki suatu cita-cita pribadi, yaitu saya ingin menjadi seorang pribadi yang bisa menginspirasi dan memotivasi orang lain agar mereka menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, bahkan lebih baik dari diri saya sendiri. Hanya itu. Saya merasa bahwa pernyataan mereka menjadikan saya sebagai role model adalah sebuah bonus yang saya terima dari segala perjuangan dan pengorbanan yang telah saya lakukan selama ini dalam proses pencapaian cita-cita tersebut. Hingga kini pun saya masih berproses untuk mencapai cita-cita tersebut. Cita-cita yang tidak akan pernah berhenti, karena bahkan ketika Tuhan memanggil, cita-cita tersebut masih terus berproses. Berapa banyak tokoh atau public figure yang masih terus menginspirasi banyak orang ketika mereka telah tiada? Unpredictable :)

Lalu, siapakah role model saya? Kalian. Kalian semua yang telah berkontribusi secara langsung dan tidak langsung, baik yang saya kenal secara pribadi maupun tidak selama saya berproses hingga saat ini. Bahkan seorang penambal ban yang pernah menolong saya atau seorang ibu yang anaknya menderita leukimia dengan penuh ketulusan senantiasa meng-sms dan mendoakan saya, mereka juga merupakan role model saya dalam berproses. Setiap orang memiliki kontribusi tersendiri dalam hidup saya dan memberikan potongan-potongan pelajaran hidup yang jika disusun dengan rapi akan menjadi sebuah gambaran hidup yang sangat bermakna.

Kali ini, saya akan bercerita mengenai kisah sang penambal ban. Apakah yang saya pelajari dari seorang penambal ban? Di Hari Raya Idul Fitri 2010 lalu, ketika dalam perjalanan pulang ke rumah setelah saya bersilaturahmi dari kediaman eyang saya, ban motor yang saya kendarai bocor. Adakah bengkel atau tempat tambal ban terdekat yang buka saat Idul Fitri? Tidak ada. Namun, apa yang saya dapatkan? Seorang tukang tambal ban keliling dengan menggunakan motornya menghampiri untuk menolong saya. Luar biasa. Pada hari libur umumnya, bahkan saat Idul Fitri, banyak orang memilih untuk berkumpul bersama dengan keluarganya dan mungkin beristirahat di rumah. Namun, apa yang dilakukan oleh beliau? Beliau masih bertebaran di bumi untuk mencari rezeki dari-Nya. Selama beliau menambal ban saya, saya menanyakan banyak hal pada beliau.

Satu hal yang membuat saya sangat respek pada beliau adalah, bagi beliau, tidak ada yang namanya hari libur atau liburan. Setiap hari harus bekerja keras. Pada weekdays, beliau bekerja di bengkelnya. Pada weekends dan hari libur, beliau berkeliling dengan motornya menjadi tukang tambal ban keliling beserta peralatan tambal ban sederhana yang beliau bawa di dalam kotak. Banyak lika-liku hidup yang harus beliau alami, hingga akhirnya beliau dapat survive dan memilih menjadi seorang penambal ban profesional. Pilihan beliau untuk menjadi seorang penambal ban profesional diiringi dengan berbagai perjuangan dan pengorbanan akan banyak hal, bahkan beliau mengorbankan momen Idul Fitri untuk berkumpul bersama keluarga dengan bekerja keras mencari rezeki-Nya.

Momen tersebut mengajarkan pada saya untuk tidak mengeluh dan selalu bekerja keras. Ujian bukan untuk dikeluhkan atau disesali, akan tetapi ujian untuk disyukuri karena mengajarkan banyak hal mengenai proses pendewasaan diri dalam berkehidupan. Setiap pilihan yang saya yakini, pasti selalu diiringi dengan perjuangan dan juga pengorbanan, bahkan mengorbankan kepentingan pribadi saya untuk berkumpul bersama keluarga dan para sahabat saya, bahkan mungkin kekasih hati saya. Saya sangat bersyukur memiliki keluarga, para sahabat. dan kekasih hati yang sangat mengerti dan mendukung segala pilihan yang saya yakini. Semua perjuangan dan pengorbanan yang telah saya lakukan, sedikit demi sedikit terbayar ketika saya berhasil secara satu per satu menjadi inspirasi dan motivasi bagi orang-orang di sekitar saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik, bahkan untuk terus bertahan dan melanjutkan hidup. Saya juga tidak pernah menyangka bahwa kehadiran saya ternyata sangatlah berarti bagi seorang balita penderita leukemia dan ibunya :)

No comments:

Post a Comment